oleh

Soal Rencana Pendirian Industri Pupuk di Bintuni, Tim Mulai Survei Lokasi

BINTUNI, Linkpapuabarat.com – Tim PT Pupuk Indonesia bersama SKK Migas, GOKPL dan BP melakukan survei pendahuluan terkait persiapan pembangunan pabrik Pupuk Indonesia di Kabupaten Teluk Bintuni. Survei meliputi penjajakan beberapa titik potensial untuk lahan industri.

“Sedang dilakukan survei lokasi. Salah satunya di sekitar lokasi area LNG Tangguh,” ujar Nara Nilandaroe, General Manager Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Genting Oil Kasuri.

Nara mengatakan, industri ini akan memberi ekses baru bagi perekonomian daerah. Dengan eksplorasi hasil alam gas bumi yang tepat, akan langsung dinikmati masyarakat tanah Papua.

Sementara itu Direktur Teknik dan Pengembangan PT Pupuk Indonesia, Arif Fauzan mengungkapkan ketertarikan membangun pabrik pupuk karena di Kabupaten Teluk Bintuni cadangan sumber gas bumi yang cukup banyak.

“Harapannya Pupuk Indonesia Group bisa segera tercapai membangunnya di Teluk Bintuni, setelah didapatkan lokasi tanah/lahan yang bisa digunakan,” ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, pada acara temu jurnalis di kota Ambon (24/3), Pjs Kepala Perwakilan SKK Migas Pamalu, Galih Agusetiawan menyampaikan bahwa dalam upaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam dalam bentuk gas bumi yang ada di Provinsi Papua Barat, industri turunan yang bahan baku produksinya yaitu gas bumi, pasti tertarik untuk melakukan bisnisnya di daerah yang dekat sumber alamnya.

“Kehadiran dan akan maraknya industri-industri turunan karena telah ditemukannya cadangan migas yang siap diproduksikan oleh industri hulu, adalah merupakan salah satu dari 12 dampak Positif yang dihasilkan dari kegiatan hulu migas di daerah” jelasnya

Kata dia, kehadiran industri turunan hulu migas, tidak hanya akan memberikan dampak positif bagi pendapatan negara, tetapi tentunya membuka peluang peluang baru, baik manfaat langsung produk pupuk yang dihasilkan, maupun terbukanya peluang penyerapan tenaga kerja di wilayah Papua Barat.

Dijelaskannya bahwa kegiatan industri hulu migas memiliki 12 dampak positif bagi pemerintahan daerah dan masyarakat di sekitar daerah operasi.

“Terdiri dari 5 dampak positif yang bisa dirasakan langsung nantinya, yaitu manfaat dari Program Pengembangan Masyarakat (PPM) dan juga CSR,” paparnya.

Dampak dari dana bagi hasil (migas) yang dibagikan ke provinsi dan kabupaten menjadi dampak positif paling terasa nantinya setelah lapangan dapat berproduksi berdasarkan keekonomiannya.

Dampak positif lainnya adalah peluang keikutsertaan pengelolaan PI 10%, serta dampak positif terciptanya lapangan pekerjaan oleh masyarakat daerah operasi. Juga akan diterimanya pajak dan restribusi daerah dan diterimanya PBB Migas.

Selain dampak positif langsung, juga terdapat 5 dampak positif tidak langsung. Yaitu bisnis penyedia barang dan jasa lokal maupun BUMD/BU lokal bisa merasakan peningkatan hasil usahanya.

“Juga berberapa infrastrukur yang digunakan untuk fasilitas penunjang operasi bisa digunakan bersama masyarakat daerah operasi,” ujar.

Terjaganya pasokan minyak bumi untuk BBM dan pasokan gas untuk bahan bakar kelistrikan menjadi bagian dari dampak positif.

“Terbukanya peluang berbisnis bagi industri turunan, karena adanya sumber energi yang ditemukan, seperti yang akan dilakukan PT Pupuk Indonsia di Bintuni, adalah melengkapi siklus 12 manfaat positif adanya kegiatan hulu migas di daerah,” tutup Galih menjelaskan. (Rls/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini