oleh

Saat warga tidak percaya Covid-19 itu nyata

Manokwari,Linkpapuabarat.com- Sebagian besar warga di kabupaten Manokwari bahkan Papua pada umumnya tidak percaya bahwa Covid-19 benar nyata. Mereka bahkan dengan sangat percaya diri mengklaim bahwa penyakit corona ini tidak seberbahaya yang orang pikirkan.

Akibatnya, begitu media menaikkan berita terkait Covid-19, warga langsung bereaksi. Bahkan ada sebagian kecil warga yang mengeluarkan kata makian kepada pemerintah daerah. Mereka menuding Covid-19 ini merupakan proyek semata dari orang-orang yang berkepentingan, termasuk di dalamnya pemerintah daerah.

Berikut beberapa warga yang smeoat kami wawancarai secara langsung terkait Covid-19 ini.

Magdalena (45), seorang ibu rumah tangga mengaku dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari di luar rumah, dirinya tidak pernah menggunakan masker, atau handsanitizer.

“Pakai masker buat?, corona ini takut sama masyarakat Papua, kitong ini saja tra pernah pake masker, atau cuci tangan kah itu, tapi masih hidup sampai sekarang, tidak pernah sakit juga,” kata Magdalena kepada Linkpapuabarat.com ketika ditemui berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan, di Manokwari baru-baru ini.

Dirinya juga mengaku semua anggota keluarganya bahkan anak-anaknya tidak memakai masker saat keluar rumah.

“Sa bilang ke dorang (suami dan anak) buat apa kamu cape-cape pakai masker, cuma kadang kitong juga takut karena di jalan polisi ada razia, katanya kalau tong tra pake masker, nanti kena denda. Sa cuma mau bilang kamu, stop sudah bikin takut kitong orang Papua, kamu bikin sampe torang susah cari makan di luar rumah karena corona ini, memang pemerintah mau kasi makan kitong sekeluarga kah, ” lanjut Magdalena.

Senada dengan Magdalena, Alex (36), seorang nelayan juga mengaku tidak pernah menggunakan APD saat keluar rumah. Meski begitu, awalnya dirinya bersama keluarganya rajin menggunakan masker saat Covid-19 baru muncul di Manokwari.

“Dulu boleh, kitong pake masker. Sekarang buat apa lagi. Penyakit ini su pergi, jadi biarkan kitong bebas beraktivitas mencari nafkah bagi keluarga. Jangan lagi ada imbauan dilarang keluar rumah kalau tidak penting, kitong keluar itu bukan main-main tapi cari nafkah ke laut atau jual iklan ke pasar,” kata Alex.

Dirinya meminta kepada pemerintah daerah agar membebaskan semua warga kembali beraktivitas normal seperti dulu, sebelum Covid-19 ini muncul.

Sementara itu, Samuel (13), seorang pelajar SMP di Manokwari juga mengaku tidak lagi menggunakan masker atau cuci tangan rutin saat berada di luar rumah. Dirinya bahkan mengaku rutin bermain olahraga sepak bola dengan temannya pada sore hari. Semua temannya juga tidak ada yang menggunakan masker.

“Sa pu masker hilang, Kaka. Teman juga tidak ada yang pake masker lagi, dong bilang corona ini su tarada lagi, su hilang,” kata Samuel.

Magdalena, Alex dan Samuel mewakili sebagian besar warga di Manokwari, dan Papua pada umumnya yang tidak mempercayai bahaya Covid-19.

Di Manokwari sendiri, aktivitas warga sehari-hari sudah berjalan normal, meskipun kantor pemerintahan masih bekerja dari rumah.

Pantauan Linkpapuabarat.com, warga sebagian besar tidak menggunakan masker lagi. Saat ini musim kampanye pilkada daerah, warga kelihatan banyak yang berkerumun ikut Pilkada calon. Di antara warga tersebut masih banyak  yang tidak menggunakan masker.

Dalam berbagai acara, baik itu pernikahan, acara duka, sebagian besar warga mengunakan masker namun saat berkomunikasi maskernya diturunkan ke dagu.

Sementara itu, semua kantor pemerintah dan swasta bahkan pusat perbelanjaan dan perbankan di Manokwari menerapkan protokol kesehatan. Sebelum masuk kantor, wajib cuci tangan dan menggunakan akan masker. Jarak antara kursi pun minimal 1 meter.

Pusat perbelanjaan yang awalnya dibatasi hanya sampai pukul 18.00, sekarang diperpanjang hingga pukul 21.00 bahkan 22.00.

Warga sudah semakin terbiasa beraktivitas normal. Di satu sisi pemerintah daerah gencar menetapkan protokol kesehatan, namun di sisi lain, sebagian warga terasa enggan lagi mematuhi imbauan pemerintah daerah.

“Covid-19 ini proyek pemerintah saja, karena uangnya banyak,” tuding salah satu warga yang hadir pada acara duka di Manokwari baru-baru ini.

Masyarakat Anggap Sepele Covid-19

Semakin meningkatnya jumlah penderita Corona Virus Diseas (Covid-19) di Manokwari mendapat perhatian dari pjs bupati Manokwari Robert.R.A. Rumbekwan. Dia mengatakan peningkatan jumlah pasien covid-19 karena masyarakat masih menganggap sepele virus tersebut.

“Masyarakat masih menganggap sepele covid sehingga protokol kesehatan tidak dipatuhi. Akibatnya jumlah pasien yang terkonfirmasi positif semakin banyak. Bahkan masih ada pemahaman di masyarakat bahwa covid ini hanya kepentingan proyek atau elit pemerintah saja,”ungkap Rumbekwan .

Dikatakan Rumbekawan, jumlah pasien yang terkonfirmasi positif terus meningkat, sehingga pihaknya perlu mempersiapkan fasilitas karantina dan ruangan isolasi.

“Faskar kita di Marina sudah mulai penuh sehingga harus mencari alternatif lainnya agar bisa menampung pasien yang positif. Tidak mungkin kita membangun yang baru karena butuh waktu sedangkan ini mendesak,”jelasnya.

Pihaknya mengaku dalam penerapan perbup penerapan protokol kesehatan masih melakukan upaya-upaya persuasif. Jika dalam upaya persuasif masyarakat masih acuh maka akan dikenai sanksi sesuai dengan yang telah diatur.

“Kita terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar bisa sadar dan mematuhi protokol kesehatan. Termasuk melakukan patroli dan sidak. Tetapi jika perilakunya tidak bisa dirubah ya terpaksa kita kenakan sanksi,” kata bupati.

Warga jangan bosan laksanakan prokes

Sementara itu, pemerintah provinsi Papua Barat dan Pemda Manokwari terus gencar menggalakkan disiplin protokol kesehatan bagi semua warganya saat beraktivitas di luar rumah.

Satuan tugas atau Satgas penanganan COVID-19 Provinsi Papua Barat mengajak semua pihak mencegah lonjakan kasus positif pada Desember 2020.

Juru bicara Satgas penanganan COVID-19 Papua Barat, dr Arnold Tiniap, mengutarakan bahwa pada Desember, ada sejumlah memomentum besar. Pihaknya khawatir hal itu memicu lonjakan kasus COVID-19.

“Pilkada serentak akan dilaksanakan Desember, ada Natal dan tahun baru. Apalagi cuti bersama hari raya Idul Fitri lalu akan digeser ke Desember. Perlu upaya bersama, saling menjaga agar Desember kasus COVID-19 di Papua Barat tidak terjadi lonjakan,” katanya.

Kekhawatiran Satgas dari seluruh agenda tersebut, yakni akan adanya pengumpulan massa dalam jumlah yang banyak. Hal itu dinilai sangat berisiko untuk penularan COVID-19.

“Saat libur panjang biasanya banyak orang bepergian. Mobilitas masyarakat dan potensi orang untuk berkumpul sangat tinggi, kekhawatiran kita mengarah ke situ,” katanya.

Sesuai laporan harian Satgas kabupaten/kota, menurutnya Papua Barat saat ini belum berada pada puncak pandemi COVID-19. Kasus baru masih terus ditemukan dengan angka penambahan cukup signifikan.

Untuk Pilkada serentak, ia berharap penyelenggara pemilu benar-benar memastikan bahwa pemungutan suara pada 9 Desember nanti berlangsung dengan protokol kesehatan secara ketat.

“Termasuk pada saat rekapitulasi suara di tingkat kelurahan, distrik hingga pleno rekapitulasi di kantor KPU.  Harus dipastikan, tidak ada kerumunan massa,” sebut Arnold

Untuk perayaan Natal diharapkan ada pengaturan secara baik dengan mengedepan aspek kesehatan masyarakat. Sehingga perayaan Natal 2020 tetap berlangsung hikmat dan masyarakat bebas dari penularan COVID-19.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan berharap semua warga di Manokwari dan Papua Barat menyadari betul bahaya yang ditimbulkan oleh Covid-19 bagi kesehatan.

Khusus bagi warga yang memiliki riwayat penyakit kronis seperti jantung, asma, paru, kolestrol dan lainnya agar tetap waspada. Tetap menggunakan masker, siap selalu handsanitizer, dan rajin cuci tangan saat beraktivitas di luar rumah. Menghindari kerumunan, minimal jarak 1 meter.

” Semoga Covid-19 ini cepat berlalu dan kita bisa beraktivitas normal seperti biasanya. (Chatrina Pakonglean).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini