oleh

Permintaan kakao Ransiki tinggi meski pendemi

Manokwari- Permintaan pasar terhadap komoditas kakao di Ransiki, Manokwari Selatan cukup tinggi meskipun pada masa pandemi COVID-19.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Papua Barat, Yacob S Fonatab, Kamis (17/9) menjelaskan bahwa permintaan kakao Ransiki tak hanya dari pasar domestik. Perusahaan besar di sejumlah negara di Eropa seperti Inggris, Belanda dan Belgia pun menginginkanya.

“Untuk luar negeri pengiriman sudh pernah dilakukan ke Belgia, Belanda serta Inggris. Sedangkan dalam negeri permintaan cukup tinggi dari Jakarta, Makassar serta Bali,” sebut Yacob.

Ia menyebutkan pandemi pun tidak berpengaruh terhadap kegiatan ekspor biji kakao Manokwari Selatan ke Eropa

“Cuma produksi kakao di Ransiki, Manokwari Selatan belum maksimal. Perbulan baru bisa menghasilkan 4 ton. Sehingga kita belum bisa memenuhi seluruh permintaan pasar, ” ucap Fonataba.

Ia menjelaskan, di Ransiki secara keseluruhan sudah tersedia lahan seluas 1000 hektar. Dari lahan seluas itu baru 200 yang berproduksi secara intensif.

Pemerintah sedang mendorong agar seluruh lahan di perkebunan itu bisa berproduksi secara maksimal.

“Jadi peluang pasar masih cukup besar dan saat masa pandemi sekarang ini permintaan tetap tinggi dari luar maupun dalam negeri. Perusahaan di Jakarta minta 500 tok perbulan, kalau luar negeri saat ini baru 6 ton, belum lagi bali dan Makassar,” katanya lagi.

Yacob mengutarakan bahwa, tahun ini pemerintah pusat berencana menggelontorkan bantuan program rehabilitasi seluas 100 hektar. Begitu pula Pemprov Papua Barat

“Namun karena pengaruh ea lokasi refoccusing anggaran untuk COVID-19 maka hanya 80 hektar yang terealisasi. Itu 40 dari program pusat dan 40 dari provinsi. Kita bersyukur masih ada meskipun tidak 100 persen,” ujarnya

Ia menambahkan, biji kakao Ransiki masuk dalam kelas premium, termasuk yang selama ini di kirim ke luar negeri dan pasar domestik.

“Saat ini pun sudah ada koperasi Ibier Suth yang kelola dan beberapa waktu lalu koperasi dapat bantuan alat produksi dari Bank Indonesia. Kedepan koperasi akan mengolah biji kakao menjadi milik dan powder, sehingga nanti bukan hanya biji kering yang dikirim,” sebut Yacob. (LPB1/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini