oleh

Kisah Perjuangan Marthen Tandi Membangun Kesadaran Hukum di Teluk Bintuni

Marthen mengakhiri pengabdiannya di Teluk Bintuni dengan capaian membanggakan. Masyarakat pun memujinya sebagai kajari yang bersahaja dan banyak mewarnai wajah hukum daerah itu.

BINTUNI, Linkpapapuabarat.com- Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Teluk Bintuni Marthen Tandi mengakhiri masa tugasnya di daerah ini. Marthen akan memulai tugas baru sebagai Kajari Ogan Ilir di Indralaya.

Banyak kisah perjuangannya selama tiga tahun bertugas di Teluk Bintuni. Mulai dari keterbatasan sarana di awal kedatangannya hingga jejaknya dalam membangun kesadaran hukum di masyarakat.

“Kami memulainya dengan keterbatasan waktu itu. Saya bertugas tahun 2018. Waktu itu bukan hanya sarana, tapi kita juga mengalami keterbatasan SDM,” kenang Marthen.

Pria kelahiran Jayapura 14 Juni 1970 ini menceritakan, ia terangkat menjadi CPNS di Kejaksaan Negeri Indonesia pada tahun 1998. Kala itu ia ditempatkan di Kejari Jayapura. Lalu pada 2004 ditungaskan di Kejari Papua. Ia memulai tugas di sana sebagai pemeriksa bidang pengawasan.

Tahun 2011 saya mengikuti program S2 di Universitas Hasanudin Makasar dan saat itu ditempatkan di kejaksaan tinggi di Sulawesi,” jelasnya.

Kemudian pada tahun 2013, ia kembali ke Kejaksaan Tinggi Papua dengan jabatan sebagai kepala seksi (OHARDA) tindak pidana terhadap orang dan harta benda. Bulan September 2015, Marthen diangkat sebagai kepala bagian tata usaha di instansi yang sama.

Barulah pada Maret 2018 dimutasi sebagai Kajari Teluk Bintuni.

“Dan pertama kali saya datang di Bintuni pada 20 Maret 2018. Waktu itu Kejari Bintuni belum memiliki kantor. Kami saat itu berkantor masih menyewa ruko yang berada di samping Bank Papua di kota Bintuni. Di situlah kami memulai semuanya,” tuturnya.

Kata Marthen, sekitar Agustus 2019, ia pindah berkantor di Distrik Menimeri. Namun aktivitas masih sangat terbatas karena pengerjaan gedung kantor belum selesai.

Akhirnya ia dan 6 kepala seksi berinisiatif berkantor di rumah dinas masing-masing. Letaknya di belakang kantor yang masih dalam proses pengerjaan.

Maret 2020 pembangunan kantor Kejari Bintuni akhirnya selesai. Marthen mulai menerapkan program.

“Saya serta 6 kepala seksi bisa dikatakan perintis, operasional di Kejaksaan Negeri Teluk Bintuni” katanya.

Sejak itu ia mulai bekerja optimal. Ia mulai melakukan konsolidasi kepada stakeholder, pemerintah, polres serta tokoh-tokoh masyarakat. Sambil ia melaksanakan tugas tugas penegakan hukum dan sosialisasi di masyarakat.

“Kendala yang kita hadapi yang pertama, wilayah kabupaten Teluk Bintuni yang sangat luas, untuk menuju ke satu distrik ke distrik lainya, memerlukan waktu yang sangat lama serta biayanya yang cukup besar,” katanya.

Sehingga dalam melakukan program ke setiap Distrik ia mengikuti program yang dilakukan oleh pemerintah Bintuni. Contoh kata Marthen pada tahun 2020 diselengarakan pilkada serentak dan pihaknya masuk di desk pilkada.

“Saat masuk di tim desk pilkada kami melakukan kunjungan ke setiap distrik untuk mengetahui permasalan serta mengatasi permasalahan, terkait dengan pemilu. Sehingga kami berharap Pilkada tahun 2020 bisa berjalan dengan baik, karena itu salah satu bidang kami di kejaksaan menyukseskan penyelengaraan pilkada,” paparnya.

Selama bertugas di Teluk Bintuni, Marthen mengaku terkesan. Budaya dan kerukunan antarumat terjaga sangat baik.

“Saya sangat berkesan semenjak bertugas 20 maret 2018 di kabupaten Teluk Bintuni, sangat luar biasa kehidupan masyarakatnya. Sangat tenang. Saling menghargai umat beragama. Hanya di Bintuni yang mempunyai simbol agama keluarga,” ucap Kajari.

Akhirnya lewat sosialisasi selama dua tahun ia berhasil membangun kesadaran hukum masyarakat Bintuni. Masyarakat mulai sadar bahwa peran serta mereka dalam membangun kesadaran hukum sangat penting.

“Masyarakat sudah mengetahui serta memahami tupoksi kejaksaan. Sekarang sudah sangat sering masyarakat datang menyampaikan permasalahan hukum. Ini adalah buah dari program penyuluhan hukum kepada masyarakat. Jaksa masuk sekolah dan generasi muda agar meningkatkan kesadaran hukum,” paparnya.

Marthen juga mengungkap capaiannya selama bertugas di Teluk Bintuni. Ia telah menyelesaikan kasus dari tahun 2018 sebanyak 37. Lalu pada tahun 2019 sebanyak 39 kasus dan 2020 sebanyak 35 kasus.

Marthen mengakhiri pengabdiannya di Teluk Bintuni dengan capaian membanggakan. Masyarakat pun memujinya sebagai kajari yang bersahaja dan banyak mewarnai wajah hukum daerah itu.

Marthen akan digantikan Ismail Otto. Marthen sendiri akan ditugaskan pada jabatan baru sebagai Kajari Ogan Ilir di Indralaya.

“Terima kasih kepada pemerintah, TNI/Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta seluruh masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni yang telah mendukung kinerja kejaksaan selama ini,” imbuhnya. (Saryanto).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini