oleh

Kisah Hidup AKP Gelora Tarigan, dari Buruh Bangunan Hingga 36 Tahun Mengabdi di Polri

BINTUNI,Linkpapuabarat.com -AKP Gelora Tarigan mengakhiri pengabdiannya di Polri setelah 36 tahun. Ia punya setumpuk kisah perjalanan. Dari ketika pertama menapak di perantauan hingga mengukir beragam cerita.

Gelora Tarigan meninggalkan tanah kelahirannya pada 1983. Ia merantau ke Irian Jaya hanya bermodal restu orng tua.

“Waktu itu saya baru lulus SMA. Saya ingat saya datang dengan menumpang kapa barang,” kenang Gelora.

Di Jayapura ia tak punya siapa-siapa. Demi bertahan hidup, Gelora menjadi buruh bangunan. Ia bekerja berpindah pindah.

“Istilahnya waktu itu kita bekerja yang penting bisa mengganjal perut. Saya bekerja di mana saja. Ya upahnya tidak seberapa. Hanya cukup untuk makan dan bayar kos kosan,” tuturnya.

Gelara tak hanya kerja bangunan. Tapi juga serabutan. Di mana saja ada peluang, ia manfaatkan. Yang penting bisa menyambung hidup.

“Dulu kita merantau pada prinsipnya ada peluang kita coba, kita ikuti,” ucapnya.

Kebetulan pada saat itu ada pendaftaran anggota polisi. Gelora iseng iseng mendaftar. Ia mendaftar bersama 6 orang rekannya sesama perantau tahun 1984.

“Saya mendaftar itu murni keinginan saya tidak ada perintah dari orang tua, saya daftar polisi orang tua saya tidak tahu sama sekali, karena pada jaman itu surat menyurat tidak ada. Komunikasi ke orang tua tidak ada sama sekali,” katanya.

Di luar dugaan Gelora dan enam rekannya lolos seleksi anggota Polri. Sampai ia masuk pendidikan kepolisian, orang tuanya belum tahu kalau sang anak akan jadi calon polisi.

“Setelah saya tamat pendidikan di kepolisian orang tua baru tahu kalau anaknya jadi seorang anggota polisi. Bahkan bertahun tahun tak ada kabar, orang tua mengira saya sudah tidak ada,”
cerita Gelora.

Setelah lulus pendidikan polisi, tahun 1989 Gelora pulang ke kampung halamannya. Ia muncul di hadapan orang tuanya dengan seragam Polri. Sungguh pertemuan itu menjadi saat-saat paling mengharukan bagi Gelora.

Kedua orangtuanya tak kuasa membendung air mata. Haru bercampur bangga melihat sang anak yang hilang bertahun tahun. Dan kini tiba tiba muncul dengan sosok berbeda.

Tamat dari pendidikan polisi tahun 1985, Gelora pertama kali ditugaskan di Polres Kota Sorong. Di kota ini dirinya mengabdi tahun 1985 hingga tahun 2016. Pada tahun 2016 ia dipindahkan ke Polres Sorong Selatan jadi Kasat Reskrim selama 1,5 tahun.

“Pada tahun 2018 saya dipindahkan lagi ke Direktorat Narkoba Polda Papua Barat. Saya bertugas selama kurang lebih satu tahun,” katanya.

Pada tahun 2019 ia dipindahkan lagi ke Polsek Sorong Kota sebagai Kanit Reskrim. 10 bulan jadi Kanit Reskrim, dipindahkan lagi ke Polres Teluk Bintuni sebagai Kasat Narkoba, tepatnya pada Desember 2019 hingga memasuki masa pensiun tahun 2021.

“Pertama sekali menjadi anggota polisi saya mendapatkan gaji Rp 21.000.00 pada saat itu sudah sangat bersyukur sekali,” ujar Gelora.

Gelora mengungkapkan, selama mengabdi di kepolisian ia tidak pernah merasakan titik jenuh. Karena ia menikmati pengabdian sebagai polisi.

Salah satu kunci sukses Gelora adalah tak pernah mengeluh dengan hidup. Banyak bersyukur dan mengikuti perintah pimpinan.

“Kalau mau jadi baik jangan pernah mengeluh. Tetapi harus banyak mengucap syukur. Karena apa yang terjadi sama kita adalah kehendak Tuhan,” katanya.

Ia juga memuji profesi sebagai anggota Polri sebagai medan pengabdian yang mulia. Bekerja untuk orang banyak dan  melayani tanpa pamrih.

“Saya selaku purnawirawan yang baru selesai dinobatkan berpesan, anggota polisi itu hebat-hebat 24 jam melayani masyarakat tanpa pamrih. Semangat serta dedikasi anggota yang baru ini sangat luar biasa. Jam berapapun mereka siap melayani masyarakat. Tetap semangat, pertahankan itu dan ditingkatkan lagi,” pungkas Gelora. (LPB5/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini