oleh

15 SPBU di daerah 3T diresmikan di Manokwari

Manokwari,Linkpapuabarat.com-Kepala Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas kembali meresmikan 15 satuan pengisian bahan bakar Umum (SPBU) baru untuk mewujudkan BBM satu harha di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T)

Peresmian dilaksanakan di Manokwari pada Selasa (24/11),oleh Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa. Hadir juga pada kegiatan itu Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani serta Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Lega Legowo Putra.

“Kita pilih Manokwari sebagai tempat peresmian karena Papua Barat memiliki sumbang sing cukup besar terhadap negara terkait produksi minyak dan gas bumi,” kata Fanshurullah pada kegiatan tersebut

Ia menyebutkan 15 SPBU baru itu tersebar di sejumlah provinsi yakni Papua Barat, Papua, Maluku Utara (Malut) , Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT) , Nusa Tenggara Barat (NTB) , Kalimantan Timur (Kaltim) serta Bengkulu.

Di Papua Barat ada empat SPBU diresmikan masing-masing di Raja Ampat, Teluk Bintuni serta Sorong Selatan. Sisanya ada dua di Provinsi Papua, empat di Malut, Maluku satu, NTT satu, NTB satu, Kaltim satu dan satu SPBU di Bengkulu.

Menurutnya pemerintah menginginkan BBM satu harga merata di seluruh wilayah NKRI, termasuk daerah 3T.

“BBM satu harga diresmikan pertama kali di Yahukimo pada 2016 oleh pak Presiden Joko Widodo.Ini sebagai upaya percepatan dalam mewujudkan keadilan energi di Indonesia,” ucap dia lagi.

Presiden Jokowi menginginkan pembangunan dimulai dari pinggiran. Program BBM satu harga yang dilaksanakan BPH Migas bersama PT Pertamina sebagai salah satu upaya mewujudkan keinginan presiden tersebut.

Pihaknya berharap program BBM satu harga ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah 3T di seluruh wilayah Indonesia.

“Ini semua harganya sama dengan daerah lain. Dulu di Papua harga premium bisa mencapai Rp 20 ribu bahkan Rp 40 ribu per liter, dengan program BBM satu harga sekarang sudah sama,” katanya

“Kita ingin biaya transportasi di daerah 3T lebih murah, ekonomi masyarakat tumbuh, nelayan lebih besar untungnya, anak-anak bisa sekolah dan lain sebagainya,” sebut Fanshurullah menambahkan.(LPB1/red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini